Pengikut

Sabtu, 28 Maret 2009

kiamat dini

subuh hari ini baru saja tertanggal  

matahari hari ini makin tajam memandang

gairah tak terbendung menggunung 

sesak dan panas mengendus ubun-ubun

mungkin ini, mungkin tidak 

yang terlena dan telupa

terpeluk bara nganga dunia

hari ini , terulang hari esok

begitu seterusnya

panas yang mengganas, memanaskan rasa yang terkoyak

Jumat, 27 Maret 2009

waktu itu dan kini

tak berbayang, halus mengelus arus

bersama, terbangun dari mimpi angin seberang

waktu itu...

kau selalu menawarkan berita-berita pagi 

tentang hujan yang semalam turun

kini ku menanyakanmu..

Rabu, 25 Maret 2009

purnama yang terlempar

raut muka silih berganti sekilas melintas
berulang salam terucap
namun tak ada balas, walau hanya sekedar
senyum malas
tak sampaikah?
atau terbentur tebalnya bibir memar
bertanya  dan bertanya
sampai kapankah kutemukan batas pertanyaan
hingga  jawaban bisa dimengerti

malam seakan terhenti pada dengkuran serangga gatal
sedikit harap pada purnama  yang penuh serigala
semoga teduh sinarnya tak mengundang siluman rasa 

dogma

dog....
ma.....
lantang diteriakkan
dari mulut-mulut manis
bersenjata ayat-ayat yang dipelintir
halus menyayat,
dalih punya dalih
niat sesungguhnya hanya wajah lain dari perdagangan
perdagangan bermodal cerita sorga dan neraka
sungguh kecerdikan yang tiada bandingan
karena modal inilah yang takkan pernah habis
menyedihkan



dari republik pinggir empang

coba renungkan saat matahari masih mengintip
ingatlah yang terjadi malam tadi
semua mata melotot
semua tangan menjarah
semua kaki menginjak
semua mulut berteriak
semua telinga tertutup nada bohong

dari dialog politik
dari ceramah keagamaan
dari hiburan malam
dari pedagang
dari praktek dokter
dari praktek-paktek tersembunyi

semua berubah
semua telah ditukar
semua tabir tak lagi berguna
semua sudah tahu

malam tadi penuh dongeng
dongeng tentang negeri bayangan
dongeng republik tanpa bentuk

yang tertukar

mari kita lihat sore yang disisakan oleh siang
lama atau sebentar yang jelas malam sebentar lagi
dan ketika gelap mulai menghimpit
tak ada lagi  sapaan lagi
tante,om,ibu,bapak,nenek,kakek
adik-adik manispun tak lebih hanya ingatan yang terlupa

sore ini, beda
tak seperti dulu lagi
tak ada lagi jernih sungai cermin alam  

apa yang sebenarnya terjadi
ternyata , sungguh mata ini  terlalu rabun saat melihat




Selasa, 24 Maret 2009

diam atau memang mati

antara hitam dan putih

nyaris tak ada yang menyelip

kalaupun ada 

tak jauh dari perpaduannya 
buram..... 
itulah kenyataan 

setelah sepanjang siang sependek malam 
meraung meniru harimau 
namun tak juga menakutkan 
karena hanya desisan cacing yang terpanggang 
kini tak jelas lagi mulut atau hidung 
mungkin terlalu sering meronta 
hingga bibir menebal kekal, membeku 

tak ada lagi sumpah serapah 
tak ada lagi teriakan 
bukan karena telah usai 
namun mati muda